| A. | SERAGAM | ||
| Terdiri dari 2 macam seragam : | |||
| 1. | Seragam Harian | ||
| a) | Pakaian seragam sekolah, yang diberi kelengkapan atribut | ||
| b) | Digunakan oleh anggota PMR Kelompok Sekolah | ||
| 2. | Seragam Lapangan | ||
| a) | Pakaian seragam lapangan berupa kaos berlambang PMI dan bertuliskan "Palang Merah Remaja" di bagian punggung | ||
| b) | Pakaian yang digunakan oleh anggota PMR kelompok Sekolah dan Luar Sekolah | ||
| B. | LENCANA | ||
| 1. | Bertujuan memberikan penghargaan dan pengakuan atas peran serta anggota PMR dalam kegiatan Tri Bakti PMR | ||
| 2. | X diberikan kepada seorang anggota PMR yang telah melaksanakan Tri Bakti PMR minimal 1 tahun | ||
| 3. | Dipakai pada dada sebelah kiri/diatas saku kiri baju pakaian seragam PMR | ||
| 4. | Anggota PMR yang berhak menerima lencana diusulkan oleh kelompok PMR, dan ditetapkan oleh PMI Cabang. | ||
| C. | BADGE | ||
| 1. | Dibuat dari kain dengan disablon atau dibordir. Warna dasar sesuai pada warna jenjang PMR: Mula berwarna hijau, Madya berwarna biru, Wira berwarna kuning | ||
| 2. | Dipakai sebagai tanda pengenal PMR dilengan kiri pada pakaian seragam PMR. Dapat juga dikenakan pada jas untuk acara-acara tertentu | ||
| D. | TANDA LOKASI | ||
Dipakai sebagai tanda pengenal wilayah kota/kabupaten dan kelompok PMR yang bersangkutan, dijahit pada lengan kanan atas pakaian seragam PMR | |||
| E. | TANDA JENJANG | ||
| 1. | Disebut kalung leher (slayer), dibuat dari kain dengan warna dasar sesuai pada warna jejang PMR : Mula berwarna hijau, Mdya berwarna biru, Wira berwarna kuning | ||
| 2. | Dipakai sebagai tanda pengenal jenjang Mula, Madya, Wira. Dikalungkan dileher dan diikat dengan ring | ||
| F. | TOPI | ||
| 1. | Dibuat dari kain katun berwarna biru untuk seluruh jenjang anggota PMR | ||
| 2. | Dipakai sebagai tanda pengenal PMR dan juga sebagai tutup kepala pada saat berada diluar ruangan misal : upacara, latihan, dan kegiatan lainnya | ||
| G. | TANDA KECAKAPAN | ||
| 1. | Tujuan memberikan penghargaan dan pengakuan atas kemampuan dan pengabdian anggota PMR dalam melaksanakan kegiatan kepalangmerahan. | ||
| 2. | Bentuk : | ||
| a) | diberikan kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatiha Pertolongan Pertama, Perawatan Keluarga, dan Pengetahuan Dasar Bencana | ||
| b | diberikan kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatihan Kepemimpinan dan Kepalangmerahan | ||
| c) | diberikan kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus pelatihan Kesehatan Remaja | ||
| d | diberikan kepada anggota PMR yang telah mengikuti dan lulus materi Usaha Kesehatan Transfusi Darah : Donor darah siswa | ||
| 3. | Dipakai pada dada sebelah kiri/ diatas saku kiri baju pakaian seragam PMR | ||
| 4. | Anggota PMR yang berhak menerima lencana diusulkan oleh kelompok PMR, dan ditetapkan oleh PMI Cabang | ||
| H. | SERTIFIKAT PENGHARGAAN | ||
Kelompok PMR Sekolah dan Luar Sekolah yang telah melakukan pembinaan dan pengembangan kegiatan Tri Bakti PMR minimal 1 Tahun, diberi sertifikat penghargaan oleh PMI | |||
Selasa, 21 Juni 2011
Atribut PMR
Rabu, 01 Juni 2011
LAGU - LAGU PMI
Kumpulan Lagu-lagu PMI dapat di download disini, jika masih banyak yang dibutuhkan silahkan beri komentar kepada kami. Semoga apa yang dapat kami sampaikan dalam blog ini dapat berguna bagi kita semua khususnya buat pembaca.....
Mengapa Harus Cuci Tangan?
Seseorang penderita flu menutup hidungnya dengan tangan saat bersin, kemudian memegang benda sesuatu, saat Anda memegang benda tersebut, bakteri flu dapat segera berpinda ke tangan Anda dan apabilah anda memegang hidung atau mulut, kuman tersebut bisa masuk kedalam tubuh kita. Itulah gambaran betapa mudahnya kuman penyakit berpindah dari satu orang ke orang lain. Penyakit seperti diare, cacingan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), TBC bahkan penyakit yang berbahaya seperti flu burung (H5N1) dan flu babi (H1N1) dapat dijegah dengan mencuci tangan secara benar. Sayangnya, banyak orang yang meremehkan kebiasaan sehat ini dan mengganggapnya tidak penting. Padahal dengan membisakan mencuci tangan dengan baik, hidup Anda dan keluarga dapat lebih sehat..
Kapan Saat Anda Mencuci Tangan ?
Mencuci tangan umumnya dilakukan saat sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah memegang daging mentah, sebelum dan setelah meyentuh orang sakit, sesudah menggunakan kamar mandi, setelah batuk atau besin atau membuang ingus, setelah mengganti popok atau pembalut, sebelum dan sesudah mengobati luka, setelah membersikan atau membuang sampah, setelah menyentuh hewan atau kotoran hewan.
Anda juga sebaiknya mengajarkan kebiasaan baik mencuci tangan ini kepada adik kalian yang masih kecil. Seorang anak sekali mempelajari dan menyentuh segalah sesuatu tanpa tahu apakah itu kotor apakah tidak. Lalu memasukan tanganya kedalam mulut atau memakan makanan tanpa mencuci tangan. Akibatnya sang anak dapat menderita penyakit. Menurut penelitian, penyakit pembunuh anak nomor 1 di Indonesia adalah karenah diare, padahal hal ini dapat di cegah dengan mengajarkan anak untuk mencuci tangan. Mengingat pentingnya cuci tangan, maka setiap tanggal 15 Oktober di canangkan sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia. Biasakan diri dan kelurga anda mencuci tangan
by: M. Musa Kalimmulloh.
Sabtu, 07 Mei 2011
Penanganan Orang Pingsan
Pingsan adalah suatu keadaan tidak sadarkan diri seperti orang tidur pada seseorang akibat sakit, kecelakaan, kekurangan oksigen, kekurangan darah, keracunan, terkejut/kaget, lapar/haus, kondisi fisik lemah, dan lain sebagainya.
Pada umumnya orang yang jatuh pingsan pada muka / wajah akan terlihat pucat pasih. Orang yang pingsan butuh oksigen dan tempat teduh terlindung dari terik sinar matahari. Oleh sebab itu amankan penderita pingsan ke tempat yang teduh dan tidak kerumuni orang banyak yang menonton saja.
Petunjuk teknis menghadapi dan membantu orang yang pingsan by organisasi.org :
- Untuk mengembalikan kesadaran orang yang mengalami kepingsanan dapat menggunakan bau-bauan yang menyengat dan merangsang seperti minyak wangi, minyak nyong-nyong, anomiak, durian dan lain-lain.
- Jika wajah orang pingsan itu pucat fasih maka sebaiknya buat badannya lebih tinggi dari kepala dengan disanggah sesuatu agar darah dapat mengalir ke kepala korban pingsan tersebut.
- Jika muka orang yang pingsan itu merah maka sanggah kepalanya dengan bantal atau sesuatu agar darah di kepalanya bisa mengalir ke tubuhnya secara normal.
- Apabila si korban pingsan tadi muntah, maka sebaiknya miringkan kepalanya agar untah orang itu bisa keluar dengan mudah sehingga jalur penapasan orang itu bisa lancar kembali.
- Bila pakaian atau aksesoris yang dipakai di tubuh terlalu ketat maka kita bisa mengendurkan agar darah dapat mudah mengalir dan korban mudah bernafas serta udara bisa menyegarkannya. Harap jangan ditelanjangi atau dilecehkan.
- Jika orang yang pingsan sudah siuman maka bisa diberi minum seperti kopi atau teh hangat. Jika orangnya diabetes jangan diberi gula dan jika orangnya masih belum kuat memegang gelas atau minum sendiri dengan tangannya harap jangan diberi dulu agar tidak tersedak.
- Apabila tidak sadar-sadar dan berangsur-angsur membaik / pulih maka sebaiknya hubungi ambulan atau dibawa ke pusat kesehatan terdekat seperti puskesmas, klinik, dokter, rumahsakit, dsb agar mendapatkan perawatan yang lebih baik.
- Perhatikan orang lain di sekitar korban, jangan sampai harta benda milik orang yang jatuh pingsan tersebut raib digondol maling / copet yang senang beraksi dikala orang lain sengsara. Perhatikan pula ornag lain yang membantu atau menonton korban, jangan sampai mereka kecopetan saat serius membantu korban atau asyik melihat kejadian.
SAR AIR
- SAR Air
Arung jeram merupakan salah satu olahraga yang tergolong beresiko tinggi. Itulah sebabnya olahraga ini sarat dengan standar dan prosedur yang harus ditaati demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Inti dari kegiatan ini adalah kerjasama yang tangguh dalam melewati setiap jeram yang memang sulit untuk diprediksi sebelumnya. Satu-satunya alat yang digunakan – selain perahu karet- adalah dayung (fadel). Dayungpun digerakkan mengikuti komando yang dipimpin oleh seorang skipper (kapten).
Terkadang kapten berteriak untukmengomandoi awaknya agar belok ke kiri atau untuk mendayung lebih kuat. Kadang ia bersuara normal dalam memberikan pengarahan. Sang kapten tampak kelihatan ‘galak’ justru pada saat menghadapi jeram yang membahayakan. Semua anggota dilarang keras mengambil inisiatif sendiri, baik berhenti mendayung maupun mendayung duluan tanpa perintah.
Irama dayung mengikuti awak yang berada paling depan, sedangkan kapten berada pada posisi di belakang. Semua awak tidak merasa dimarahi oleh sang kapten, karena semua merasa bukan tunduk pada sang kapten, melainkan tunduk dan taat pada standar keselamatan perjalanan perahu tersebut.
Secara makro, perjalanan kehidupan komunitas/organisasi mirip dengan perjalanan arung jeram. Di tengah-tengah ombak ketidakpastian maka semua anggota seyogyanya taat pada sistem, aturan dan prosedur yang berlaku secara konsisten dan konsekuen. Ibarat jeram yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, begitupun setiap perubahan yang terjadi dalam lingkungan eksternal organisasi. Tidak ada kesempatan untuk mencari pembenaran, apalagi untuk mengelak. Satu-satuya cara untuk melewati jeram tersebut adalah dengan melewatinya. Hampir tidak ada waktu maupun celah untuk mencari siapa yang salah, terutama dalam situasi permasalahan yang pelik.
Satu-satunya cara untuk mengarungi ‘jeram-jeram’ organisasi adalah dengan memelihara kekompakan antar personil. Ambisi yang berlebihan dari tiap anggota untuk meraih jabatan atau image tertentu tanpa melihat kompetensi, justru akan membuat organisasi semakin tidak terarah.
Layaknya seorang skipper (kapten) perahu, setiap pemimpin dalam suatu komunitas/organisasi harus mampu memainkan peran yang proporsional danprofessional. Seorang kapten tidak akan ewuh pakewuh untuk menegur dengan keras awaknya yang tidak menjalankan prosedur dengan benar. Seorang kapten pun tidak perlu menerima pujian maupun fasilitas dan pelayanan dari awaknya karena kepemimpinannya yang baik.
Tujuan mereka adalah sampai di tujuan dengan selamat dan semua peserta mampu menikmati perjalanan yang penuh tantangan tersebut. Salah satu kunci sukses ketaatan pada sistem dan prosedur adalah pengawasan (controlling) yang optimal. Ibarat kapten yang senantiasa memperhatikan fadel (dayung) awaknya serta arah dayung yang dilakukan, demikian pula setiap pemimpin harus mampu melakukan pengawasan yang dilandasi kepedulian (care) yang tinggi.
Skipper (kapten) adalah orang yang sangat kompeten dalam melakukan seluk-beluk kegiatan arung jeram, dari mulai penyiapan alat-alat, perjalanan, dan setelah kegiatan berlangsung. Dia mampu mengarahkan kemana perahu dijalankan, seberapa jauh harus berbelok, kapan saatnya mundur, dan kapan saatnya maju adalah karena memang dia mampu (kompeten) melakukan hal tersebut. Ketika ada banyak jeram yang harus dilewati, berdasarkan kompetensi dan analisis kemampuan tim, diapun mampu melewatinya dengan efektif. Oleh karena itu, dalam mengarungi ‘jeram’ organisasi yang bermacam-macam, tidak ada pilihan lain selain para pemimpin haruslah orang yang berkompeten.
Penetapan orang yang tepat pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat pula, diharapkan mampu memimpin biduk organisasi untuk mencapai tujuan maksimal organisasi tersebut. Ibarat seorang kapten, maka para pemimpin organisasi apapun seyogyanya menguasai setiap sistem, aturan, maupun prosedur yang berlaku untuk tiap-tiap aktivitas kegiatan di bidangnya. Model pemimpin yang efektif adalah ketika untuk pertama kali ia menunjukkan keteladanannya melakukan seluruh sistem dan prosedur dengan baik. Dengan demikian, ia pun mampu dan ‘berkuasa’ untuk melakukan pengawasan dengan optimal.
Nikmatnya melakukan kegiatan arung jeram adalah karena ada jeramnya untuk diarungi. Nikmatnya menjalani kehidupan organisasi kita adalah justru karena setiap waktu kita berhadapan dengan jeram-jeram permasalahan yang selalu berubah-ubah. Di sinilah kekompakan tim diuji, kompetensi pemimpin diasah, serta sikap mental diarahkan lebih positif.
Langganan:
Postingan (Atom)



